Dolar Minggir Dulu, Rupiah Mulai Mendunia Jadi Alat Transaksi di Hongkong
Bank Rakyat China, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Moneter Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk membangun kerangka kerja sama transaksi mata uang bilateral antara Indonesia dan Hong Kong.
Dalam siaran pers yang diterbitkan HKMA pada Kamis (12/6/2026), kerja sama tersebut bertujuan memfasilitasi penggunaan rupiah Indonesia (IDR) dan renminbi luar negeri (offshore renminbi) dalam kegiatan perdagangan dan investasi lintas batas antara pelaku usaha dan lembaga keuangan di kedua wilayah.
Melalui kerangka transaksi mata uang bilateral tersebut, perusahaan dan institusi di Indonesia maupun Hong Kong akan dapat melakukan pertukaran dan penyelesaian transaksi secara langsung menggunakan rupiah dan renminbi luar negeri tanpa harus bergantung pada mata uang ketiga.
HKMA menyebut inisiatif tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas batas sekaligus mendorong penggunaan mata uang regional yang lebih luas dalam aktivitas ekonomi dan investasi.
Sebagai tindak lanjut, Bank Indonesia dan HKMA akan memimpin penyusunan pedoman operasional serta berbagai persiapan teknis yang diperlukan untuk implementasi kerangka kerja tersebut. Kedua otoritas juga akan menunjuk sejumlah bank di Indonesia dan Hong Kong sebagai dealer lintas mata uang yang berpartisipasi dalam skema tersebut.
Kepala Eksekutif HKMA, Eddie Yue, mengatakan peluncuran kerangka transaksi mata uang bilateral antara Hong Kong dan Indonesia menjadi langkah penting dalam memperluas penggunaan mata uang regional, khususnya renminbi.
"Kerangka transaksi mata uang bilateral ini menandai terobosan besar dalam mendorong penggunaan mata uang regional dan renminbi, sekaligus menunjukkan peran Hong Kong sebagai pusat renminbi lepas pantai," ujar Yue.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat konektivitas keuangan regional di Asia serta mengurangi ketergantungan terhadap mata uang global tertentu dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara.
Keuntungan Perdagangan Tak Lagi Bergantung Dolar AS
Kesepakatan penggunaan rupiah dan renminbi antara Indonesia dan Hong Kong pada dasarnya bertujuan memangkas ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi. Selama ini, banyak transaksi lintas negara harus melalui dolar AS terlebih dahulu sebelum dikonversi ke mata uang tujuan. Proses tersebut menambah biaya konversi, memperpanjang rantai transaksi, dan membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap fluktuasi dolar.
Melalui skema baru ini, perusahaan di Indonesia dan Hong Kong nantinya dapat melakukan transaksi secara lebih langsung menggunakan rupiah dan renminbi. Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) menyebut langkah tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas batas sekaligus memperluas penggunaan mata uang regional. Bank Indonesia juga selama ini menilai transaksi mata uang lokal dapat meningkatkan efisiensi, mengembangkan pasar keuangan domestik, dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Lalu, apakah kerja sama ini akan membuat wisatawan Indonesia beralih dari Singapura ke Hong Kong? Dalam jangka pendek, jawabannya belum tentu. Kesepakatan yang ditandatangani saat ini lebih berfokus pada perdagangan dan investasi, bukan pada transaksi ritel atau pariwisata. Namun dalam jangka panjang, semakin luas penggunaan rupiah di pusat keuangan internasional seperti Hong Kong dapat mempermudah layanan keuangan, pembayaran, dan pertukaran mata uang bagi pelaku bisnis maupun masyarakat.
Manfaat terbesar justru berada di sektor ekonomi riil. Importir Indonesia yang membeli barang dari Hong Kong atau China dapat mengurangi biaya konversi mata uang. Investor Hong Kong juga berpotensi lebih mudah menempatkan modal di Indonesia tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dolar AS. Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat menekan biaya transaksi dan meningkatkan daya saing perdagangan kedua wilayah.
Bagi Indonesia, nilai strategis lainnya adalah meningkatnya posisi rupiah di panggung internasional. Semakin sering rupiah digunakan dalam transaksi lintas negara, semakin besar pula pengakuan terhadap mata uang nasional sebagai alat pembayaran dan penyelesaian perdagangan. Karena itu, kesepakatan ini bukan sekadar soal mekanisme pembayaran, melainkan bagian dari tren yang lebih luas di Asia untuk mengurangi dominasi dolar AS dan memperkuat penggunaan mata uang regional dalam kegiatan ekonomi internasional.
Indonesia dan Hong Kong Dorong Mata Uang Lokal
Kerja sama penggunaan rupiah dan renminbi antara Indonesia dan Hong Kong merupakan bagian dari tren yang semakin berkembang di berbagai negara untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi internasional. Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan terhadap mata uang pihak ketiga, terutama dolar AS, yang selama puluhan tahun mendominasi transaksi global.
Dalam sistem perdagangan konvensional, transaksi antara dua negara sering kali harus dikonversi terlebih dahulu ke dolar AS sebelum ditukar ke mata uang tujuan. Mekanisme tersebut menambah biaya transaksi dan membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap gejolak nilai tukar dolar yang dipengaruhi kebijakan ekonomi Amerika Serikat maupun kondisi pasar global.
Karena itu, semakin banyak negara di Asia mulai mendorong penggunaan mata uang lokal secara langsung. Indonesia sendiri telah menjalin berbagai kerja sama serupa dengan sejumlah negara mitra melalui skema Local Currency Transaction (LCT), termasuk dengan Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China. Langkah tersebut bertujuan menciptakan sistem pembayaran lintas batas yang lebih efisien dan stabil.
Bagi Hong Kong, kerja sama ini juga memiliki arti strategis. Sebagai pusat keuangan internasional dan pusat utama perdagangan renminbi di luar daratan China, Hong Kong berupaya memperluas penggunaan mata uang China dalam aktivitas ekonomi regional. Semakin banyak transaksi yang menggunakan renminbi, semakin kuat pula posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan renminbi lepas pantai terbesar di dunia.
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). - (Republika/Thoudy Badai)
Sementara bagi Indonesia, meningkatnya penggunaan rupiah dalam transaksi internasional dapat memperkuat peran mata uang nasional di pasar regional. Meski tidak berarti rupiah akan langsung menjadi mata uang global, semakin luas penggunaannya dalam perdagangan dan investasi dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku usaha.


0 Response to "Dolar Minggir Dulu, Rupiah Mulai Mendunia Jadi Alat Transaksi di Hongkong"
Posting Komentar