Tiga negara perbarui kekuatan militer: AS uji Harpoon, India cari 150 jet latih
Perkembangan kekuatan militer sejumlah negara kembali menjadi perhatian pada akhir Agustus 2026.
Amerika Serikat (AS) menguji sistem rudal antikapal berbasis darat, Australia memulai pembangunan kapal perang kelas Hunter pertamanya, sementara India membuka rencana pengadaan sekitar 150 pesawat jet latih untuk memperbarui armada pelatihan pilot.
Ketiga perkembangan tersebut memperlihatkan fokus yang berbeda.
Washington menguji kemampuan serangan antikapal dari wilayah pesisir, Canberra memperkuat armada permukaan dengan kapal yang memiliki kemampuan peperangan antikapal selam, sedangkan New Delhi berupaya memperbarui sistem pelatihan penerbang tempur.
AS Uji Harpoon dari Darat
Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan berhasil menguji Harpoon Coastal Defense System (HCDS) di Point Mugu Sea Range, California.
Dalam pengujian tersebut, rudal Harpoon yang diluncurkan dari darat berhasil mengenai sasaran kapal di perairan dekat pantai.
Angkatan Laut AS belum mengungkapkan secara rinci varian rudal yang digunakan, jarak peluncuran, karakteristik sasaran, maupun konfigurasi lengkap sistem dalam pengujian tersebut.
Uji coba ini penting karena menunjukkan penggunaan rudal Harpoon dalam konsep pertahanan pesisir.
Sistem tersebut memungkinkan rudal antikapal ditempatkan di daratan sehingga tidak seluruh kemampuan serangan terhadap kapal permukaan bergantung pada kapal perang, kapal selam, atau pesawat.
Dalam skenario operasi di kawasan pesisir, peluncur berbasis darat dapat ditempatkan di sejumlah titik dan digunakan untuk mengawasi atau mengancam jalur pelayaran strategis.
Konsep seperti ini juga membuat lawan harus memperhitungkan ancaman dari berbagai lokasi, bukan hanya dari armada laut.
Harpoon sendiri merupakan keluarga rudal antikapal yang telah digunakan dalam berbagai platform. Rudal tersebut telah diintegrasikan ke kapal perang, kapal selam, pesawat, serta sistem peluncuran dari darat.
Untuk varian Harpoon Block II, sistem navigasi menggabungkan panduan inersial dan GPS, kemudian menggunakan pencari radar aktif pada fase terminal untuk mengarahkan rudal menuju sasaran.
Rudal tersebut dirancang terbang rendah di atas permukaan laut. Karakteristik ini menjadi salah satu elemen penting dalam misi antikapal karena dapat mengurangi waktu yang tersedia bagi sistem pertahanan lawan untuk mendeteksi dan merespons ancaman.
Boeing sebelumnya menyebut Harpoon Block II memiliki hulu ledak seberat sekitar 227 kilogram dan jangkauan hingga sekitar 125 kilometer.
Namun, Angkatan Laut AS belum memastikan apakah konfigurasi tersebut yang digunakan dalam pengujian HCDS terbaru.
Australia Mulai Bangun Kapal Hunter
Di kawasan Indo-Pasifik, Australia juga melanjutkan program modernisasi Angkatan Laut Kerajaan Australia.
BAE Systems Maritime Australia secara resmi memulai tahap pembangunan kapal perang pertama kelas Hunter, NUSHIP Hunter, di galangan kapal Osborne Naval Shipyard di Adelaide.
Kapal kelas Hunter merupakan turunan dari desain Type 26 yang dikembangkan BAE Systems.
Program tersebut pada awalnya direncanakan menghasilkan sembilan kapal, tetapi pemerintah Australia kemudian menyesuaikan jumlah pengadaan menjadi enam unit sebagai bagian dari perubahan struktur pengadaan armada permukaan.
Kapal ini terutama dirancang untuk peperangan antikapal selam, tetapi juga memiliki kemampuan pertahanan dan peperangan permukaan.
NUSHIP Hunter memiliki panjang sekitar 151 meter dengan bobot penuh sekitar 8.800 ton.
Sistemnya mencakup radar CEAFAR2 buatan Australia dan sistem manajemen tempur Aegis.
Persenjataannya mencakup meriam Mk 45 Mod 4A kaliber 127 milimeter, sistem peluncur vertikal Mk 41 dengan 32 sel, rudal antikapal, sistem peluncur umpan, serta torpedo.
Kapal tersebut juga memiliki fasilitas penerbangan untuk mendukung operasi helikopter dan sistem udara tanpa awak.
Pembangunan kelas Hunter berlangsung ketika Australia meningkatkan perhatian terhadap kemampuan perang bawah laut dan pertahanan maritim.
Posisi geografis Australia serta kepentingannya terhadap jalur pelayaran Indo-Pasifik membuat kemampuan deteksi dan menghadapi kapal selam menjadi salah satu prioritas pertahanan Canberra.
India Cari 150 Jet Latih
Sementara itu, India berencana memperbarui armada pesawat latih Angkatan Udara India.
Menurut laporan The Defense Post, pemerintah India telah mengeluarkan permintaan informasi untuk pengadaan sekitar 150 jet latih yang akan digunakan dalam program pelatihan penerbang.
Pengadaan tersebut diarahkan untuk menggantikan BAE Systems Hawk Mk132 yang telah digunakan India sejak 2008.
Pesawat baru yang dicari India harus memiliki sejumlah kemampuan modern, termasuk sistem kendali elektronik, kokpit digital, sistem kendali mesin digital, avionik, perangkat peperangan elektronik, serta kompatibilitas dengan sistem navigasi satelit NavIC milik India.
Sejumlah produsen berpotensi masuk dalam program tersebut, antara lain HAL melalui HLFT-42, Boeing-Saab dengan T-7 Red Hawk, Korea Aerospace Industries dengan T-50 Golden Eagle, serta Leonardo dengan M-346 Master.
India juga mensyaratkan adanya produksi di dalam negeri dan transfer teknologi sesuai kebijakan pengadaan pertahanannya.
Rencana pengadaan ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah pesawat. Jet latih tingkat lanjut merupakan bagian penting dalam rantai pembentukan pilot tempur karena menjadi penghubung antara pelatihan dasar dan pengoperasian pesawat tempur berkemampuan tinggi.
India menargetkan pengiriman seluruh pesawat dilakukan dalam waktu 60 bulan setelah kontrak ditandatangani.
Proses pengadaan diperkirakan terus berkembang setelah calon pemasok menyampaikan respons terhadap permintaan informasi pemerintah India.
Modernisasi dengan Fokus Berbeda
Perkembangan di Amerika Serikat, Australia, dan India memperlihatkan bahwa modernisasi militer tidak selalu dilakukan melalui pengadaan platform yang sama.
Amerika Serikat menguji kemampuan rudal antikapal berbasis darat untuk memperkuat opsi pertahanan pesisir.
Australia membangun kapal perang yang berfokus pada peperangan antikapal selam, sementara India memprioritaskan pembaruan sistem pelatihan untuk menyiapkan generasi baru penerbang militer.
Ketiganya menunjukkan kecenderungan yang sama: meningkatkan kemampuan militer melalui kombinasi teknologi, sistem persenjataan, dan kesiapan personel, sesuai kebutuhan strategis masing-masing negara.


0 Response to "Tiga negara perbarui kekuatan militer: AS uji Harpoon, India cari 150 jet latih"
Posting Komentar