Takut jadi sasaran Iran, pegawai AS di Saudi mulai diungsikan keluar
Pemerintah AS pada Senin memerintahkan pegawai pemerintah nondarurat agar meninggalkan Arab Saudi. Pernyataan itu disampaikan menyusul meluasnya perang Iran imbas serangan barbar Amerika ke Iran.
Perang mendorong harga minyak di atas 110 dolar AS per barel dan memicu aksi jual di pasar Asia.
Kedutaan Besar AS di Riyadh menyebutkan peningkatan risiko dari konflik bersenjata, terorisme, dan serangan rudal dan drone dari Yaman dan Iran. Ini menandai perintah evakuasi pertama yang dikeluarkan oleh Washington di Arab Saudi sejak perang dimulai.
"Langkah pencegahan ini bertujuan untuk memastikan keselamatan warga negara AS dan staf diplomatik di tengah perkembangan keamanan yang sedang berlangsung," demikian keterangan Kementerian Luar Negeri AS dilansir TRT.
Pada Ahad, Arab Saudi mengatakan dua orang tewas dan 12 luka-luka ketika sebuah proyektil mendarat di provinsi Al Khar
Militer Israel mengatakan pada Senin bahwa mereka telah memulai gelombang serangan baru yang menargetkan infrastruktur penting di Iran tengah.
Otoritas Zionis sebelumnya telah menyerang fasilitas minyak Iran pada Ahad, yang memicu kebakaran dan mengirimkan asap tebal ke Teheran dan kota Karaj di dekatnya.
Serangan tersebut tampaknya merupakan operasi militer pertama terhadap infrastruktur energi negara itu sejak perang dimulai.
Seperti dilansir laman CNBC internasional, pasar minyak bereaksi tajam. Harga minyak mentah melonjak di atas 110 dolar AS per barel pada Senin pagi setelah beberapa produsen energi Timur Tengah mengumumkan rencana untuk memangkas produksi.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak sekitar 30 persen, atau 27 dolar AS, menjadi 117 dolar AS per barel. Patokan global Brent naik lebih dari 25 persen menjadi 118 dolar AS. Terakhir kali harga minyak menembus 110 dolar AS per barel adalah setelah Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022.
Lonjakan tersebut terjadi setelah beberapa hari terjadi gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Kapal tanker menghindari jalur air yang sempit itu setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tersebut.
Dengan terhentinya pengiriman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengatakan mereka akan mengurangi produksi karena pasokan menumpuk.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Ahad bahwa lalu lintas melalui Selat akan dilanjutkan setelah Washington menghancurkan kemampuan Teheran untuk mengancam pelayaran.
“Masa tenggang yang dimiliki pasar selama sebagian besar minggu lalu, dengan asumsi bahwa hal ini tidak akan lepas kendali dan mulai menyebar dengan penularan ke bagian lain dari perekonomian, jelas telah berakhir,” kata Clayton Seigle, ketua bidang energi dan geopolitik di CSIS.
“Kita mungkin akan mengalami periode krisis yang lebih lama. Pasar... sedang berupaya keras untuk mengejar ketertinggalan.”
Drone pencegat Ukraina
Teheran sebelumnya telah mengisyaratkan niatnya untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara tetangga. Dalam video yang direkam sebelumnya dan dirilis pada hari Sabtu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf atas serangan terhadap negara-negara tetangga di Timur Tengah dan mengatakan Teheran akan berhenti menembak negara-negara yang tidak membantu AS dan Israel dalam operasi gabungan mereka melawan Iran.
Namun, Arab Saudi mengatakan pada Ahad bahwa serangan Iran terus berlanjut. Riyadh memperingatkan bahwa serangan itu tidak memiliki dasar dan menyebabkan peningkatan ketegangan lebih lanjut serta merusak hubungan sekarang dan di masa depan.
Iran telah meluncurkan sejumlah besar drone 'kamikaze' Shahed untuk membanjiri sistem pertahanan udara di seluruh Teluk, dengan alasan keberadaan pangkalan militer AS dan dukungan regional untuk serangan Amerika.
Drone tersebut juga telah menjadi bagian tetap dari persenjataan Rusia dalam invasi Ukraina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ukraina telah mengembangkan tindakan balasan untuk menembak jatuh drone tersebut. Drone jauh lebih murah daripada rudal pencegat yang digunakan oleh peralatan yang dipasok AS, seperti sistem pertahanan udara Patriot.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada The New York Times bahwa Kyiv telah menyetujui permintaan AS untuk mengirim drone pencegat dan tim ahli drone untuk melindungi pangkalan militer Amerika di Yordania.
“Kami telah menerima beberapa pesan mengenai cara membantu warga sipil di Timur Tengah dan cara membantu tentara Amerika yang ditempatkan di negara-negara tertentu,” tambah Zelenskyy secara terpisah dalam sebuah unggahan di X pada Ahad.
“Kami menjawab: ‘Kami akan mengirim para ahli dan menyediakan semua yang dibutuhkan untuk melindungi mereka.’”
Sementara itu China mengirim utusan khusus ke Timur Tengah pekan lalu untuk menengahi gencatan senjata. Diplomat utamanya, Wang Yi, mengulangi seruan Beijing untuk mengakhiri aksi militer selama konferensi pers pada hari Minggu, menyesalkan konflik tersebut sebagai perang yang seharusnya tidak pernah terjadi.


0 Response to "Takut jadi sasaran Iran, pegawai AS di Saudi mulai diungsikan keluar"
Posting Komentar